Boltim, KB.news- Ketua Karang Taruna Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Muhammad Taufik, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan mengawal proses demokrasi.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Ngobrol Pemilu (Ngopi) yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Boltim, Senin (9/3/2026)
Dalam kesempatan itu, Taufik menyebut bahwa demokrasi merupakan amanah rakyat yang tidak hanya berhenti pada proses pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Menurutnya, partisipasi masyarakat, khususnya pemuda, juga diperlukan untuk mengawasi jalannya pemerintahan setelah pemilihan berlangsung.
“Demokrasi ini adalah amanah rakyat. Jadi pengawalannya tidak hanya saat pemungutan suara di TPS, tetapi juga setelah pemilihan selesai, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang lahir dari proses demokrasi tersebut,” ujarnya.
Ia juga menyoroti besarnya pengaruh generasi muda dalam menentukan arah demokrasi di Indonesia. Taufik menyebutkan bahwa saat ini pemilih dari kalangan Generasi Z dan milenial mencapai sekitar 55 persen dari total pemilih.
Dengan jumlah tersebut, ia menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas demokrasi di tanah air.
“Dengan persentase generasi Z dan milenial yang cukup besar, peran anak muda menjadi sangat menentukan dalam memastikan demokrasi berjalan dengan baik,” katanya.
Namun demikian, Taufik mengakui bahwa generasi muda masih menghadapi sejumlah tantangan dalam berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi. Ia menyebut setidaknya ada empat tantangan utama yang dihadapi pemuda saat ini.
Menurutnya, tantangan tersebut antara lain masih rendahnya literasi politik, munculnya sikap apatis terhadap politik, maraknya penyebaran informasi hoaks, serta kondisi sebagian anak muda yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.
Di sisi lain, Taufik juga menjelaskan bahwa sistem demokrasi di Indonesia memiliki tiga pilar utama, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan terbesar dalam demokrasi tetap berada di tangan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.
“Ketiga pilar tersebut memang menjadi fondasi demokrasi, tetapi landasan utamanya tetap rakyat sebagai pemegang kedaulatan,” pungkasnya.*






