Mahasiswa KKD dan Karang Taruna Inaton Gelar Dialog Kebudayaan Bolaang Mongondow

BOLTIM, KabarBMR.news- Upaya menjaga identitas dan nilai budaya lokal di tengah derasnya modernitas kembali digelorakan lewat Dialog Kebudayaan bertajuk “Membaca Ulang Kebudayaan Bolaang Mongondow dalam Modernitas” yang digelar di Desa Inaton.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Mahasiswa POKJA IV Kuliah Kerja Dakwah (KKD) IAI Muhammadiyah Kotamobagu dengan Karang Taruna Mosintak Desa Inaton.

Bacaan Lainnya

Dialog tersebut menghadirkan ruang diskusi lintas generasi bagi peserta untuk menguak problem kebudayaan Bolaang Mongondow dari perspektif sejarah, teori kebudayaan, hingga praktik kesenian.

Adapun narasumber yang hadir yakni Murdiono Mokoginta, S.Pd., M.Hum (Sejarawan BMR), Algifari Yulio Sugeha, S.Pd (Akademisi Kajian Kebudayaan), serta Vicky Mokoagow (Komponis Band BRAGA MGNDW/Pelaku Seni) serta Keynote Speech acara ini diberikan kepada Tenaga Ahli Bupati Bolmong Timur, Hendra Damopolii.

Dalam pemaparannya, para narasumber menggarisbawahi bahwa kebudayaan Bolaang Mongondow sedang menghadapi persoalan serius berupa penyederhanaan makna.

Tradisi banyak direduksi sebatas simbol seremonial tanpa pengetahuan filosofis yang cukup. Kondisi ini, menurut mereka, dapat membuat kebudayaan lokal hanya tampil sebagai ornamen, bukan identitas dan pedoman etika masyarakat.

Dalam kesempatan ini juga, Sangadi Desa Inaton, Saiful Amrin, S.Pd., melihat bahwa persoalan utama bukan kurangnya warisan budaya, tetapi minimnya ruang diskusi dan pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Sering kali kita bangga menyebut diri masyarakat adat, tetapi lupa menjelaskan nilai apa yang diwariskan. Jika kebudayaan hanya tampil di acara resmi tanpa makna, maka yang dijaga hanya kulitnya,” tegasnya.

Dikesempatan yang sama, Ketua Karang Taruna Mosintak turut menekankan bahwa pemuda perlu mengambil posisi sebagai subjek kebudayaan, bukan sekadar penonton.

Menurutnya, pemuda berada pada irisan antara tradisi dan budaya global sehingga membutuhkan ruang untuk membaca budaya secara kritis dan sesuai konteks zaman.

Senada dengan itu,Amaludin Bahansubu, S.Pdi., M.Pdi., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) POKJA IV menyebut kebudayaan lokal berada dalam posisi paradoks: diagungkan sebagai identitas, tetapi tidak dihidupi dalam praktik sehari-hari.

“Kebanggaan simbolik tidak cukup. Modernitas harus dinegosiasikan agar kebudayaan tetap hidup sebagai proses,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual kampus dalam membangun kesadaran kritis berbasis kearifan lokal.

Sementara itu, keynote speaker pada kegiatan ini Hendra Damopolii menekankan pentingnya menjadikan nilai budaya sebagai landasan kebijakan publik daerah.

Menurutnya, kebudayaan merupakan modal sosial yang dapat menguatkan legitimasi dan keberlanjutan pembangunan jika nilai-nilai seperti musyawarah dan solidaritas diintegrasikan dalam tata kelola pemerintahan.

Dan dialog berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta dari unsur pemuda, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan tingkat kecamatan Modayag Barat serta mahasiswa KKD. Berbagai topik mengemuka seperti komodifikasi budaya, digitalisasi, pergeseran nilai adat, hingga peran seni sebagai media kritik sosial.

Melalui kegiatan ini, Desa Inaton menegaskan diri sebagai ruang hidup bagi kebudayaan Bolaang Mongondow. Dialog kebudayaan tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi merupakan ikhtiar kolektif untuk merawat identitas, memperkuat nilai, dan menata masa depan di tengah arus perubahan zaman.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *