Hajan dan Mimpi Menkakaokan Matali Baru

Hajan Paputungan, pria 61 tak percaya, kebun 0,8 hektar milik mampu menghasilkan 50 kilo gram biji kakao kering perbulan.

Bolmong, KB.news- Tawa Hajan Potabuga pecah di antara ratusan batang kakao. Di usia 61 tahun, bapak tiga anak ini tak pernah menyangka kebun yang dulu ia anggap remeh, kini bisa menggaji sembilan tetangganya.

“Awalnya saya ragu,” kata Hajan sambil mengusap buah kakao yang kemerahan, sebesar kepalan tangan orang dewasa. “Kakao lokal saya dulu kecil-kecil, hasilnya sedikit.”

Bacaan Lainnya

Keraguan itu pecah pada awal 2019. Bersama kelompok taninya, ia menerima 300 bibit unggul dari program binaan PT J Resources Bolaang Mongondow. Di sana ia bertemu Roni Kobandaha, mantan penyuluh pertanian yang oleh petani dijuluki ‘Prof Kakao’.

“Prof itu bilang, ‘Coba jo dulu, Hajan. Kalau gagal, saya yang taruhan’. Saya lantas tidak ambil taruhannya, tapi saya ambil ilmunya,” kenang Hajan, giginya yang tak lagi lengkap terlihat saat ia tertawa.

Roni Kobandaha, sosok yang sukses merubah paradigma petani kakao Matali Baru menjadi kesuksesan yang membawah berkah.

Roni tidak hanya memberi bibit. Ia datang setiap minggu. Mengajari Hajan cara pangkas yang benar, mengatur jarak tanam, dan merawat buah. Ilmu yang tak pernah Hajan dapat dari kakao lokalnya.

Momen itu datang pada Maret 2020. Untuk pertama kalinya, 300 bibit bantuan itu berbuah. Buahnya tidak kecil seperti dulu. Warnanya kuning kemerahan, mengkilap, dan padat berisi.

Dari kebun seluas 0,8 hektar, Hajan kini bisa memetik 50 kilogram biji kakao kering dalam sekali panen. Bau coklat yang khas menguar dari lantai jemurnya yang terbuat dari terpal.

Dengan harga jual di tingkat pengepul yang mencapai Rp78.000 per kilogram, satu kali petikan itu bernilai Rp3,9 juta di tangannya.

“Dulu mana pernah pegang uang sebanyak itu dari coklat,” ujarnya.

Angka itu bukan berhenti di kantongnya sendiri. Dari Rp3,9 juta itu, Hajan sudah membaginya dengan rapi.

“Sebagian untuk anak kuliah, sebagian untuk kebutuhan rumah dan kebun, sebagian untuk gaji pekerja, sisanya saya simpan,” kata Hajan.

Potret Hajan Paputungan yang tengah memperlihatkan buah kakao yang tak lama lagi di panen.

Kini, setiap musim panen, kebunnya ramai. Sembilan orang tetangganya ia pekerjakan untuk memetik, dengan upah Rp150.000 per hari. Saat musim jemur, ia membayar tukang jemur Rp200.000 hingga Rp250.000 per hari.

Dari seorang petani yang dulu bekerja sendiri, Hajan kini menjadi penyedia lapangan kerja di desanya.

Di bawah naungan pohon kakao yang daunnya berdesir tertiup angin Matali Baru, Hajan menatap kebunnya. Mimpinya sudah melampaui 300 bibit itu.

“Dulu saya pikir emas itu hanya ada di dalam tambang. Ternyata emas itu tumbuh di kebun saya sendiri,” katanya pelan.

Mimpi Hajan sederhana: menkakaokan Matali Baru. Biar setelah tambang tutup, desanya tetap hidup dari buah yang dulu ia ragukan itu.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *